adenaufal/anti-slop-writing-id
Tulis teks yang menghindari semua pola penulisan AI dan terasa seperti ditulis manusia. Gunakan saat menulis artikel, esai, posting blog, konten media sosial, atau teks apa pun dalam Bahasa Indonesia yang harus terasa autentik. Aktif saat ada permintaan untuk menulis secara natural, menghindari slop AI, menghindari deteksi AI, memanusiakan tulisan, menulis seperti manusia, atau membuat teks terdengar otentik dalam Bahasa Indonesia.
npx skills add https://github.com/adenaufal/anti-slop-writing --skill anti-slop-writing-id
Tulisan AI gagal karena mengoptimalkan probabilitas statistik. Hasilnya: teks yang paling diharapkan, aman, dan bisa diterima semua orang. Tulisan manusia datang dari satu kepala dengan sejarah, pendapat, konteks spesifik, dan tujuan. Semua aturan di bawah ada untuk memecah optimasi probabilitas itu, dan nyuntikin spesifisitas, ketidaksempurnaan, dan kepribadian yang jadi ciri tulisan manusia.
Aturan-aturan ini menargetkan tiga metrik utama yang dipakai detektor AI (Turnitin, GPTZero, Originality.ai):
Per pertengahan 2026, tell-nya udah pindah. OpenAI men-suppress em dash di GPT-5.1, dan kosakata legacy ("delve", "tapestry", "menyelami", "permadani") udah di-train keluar dari model Claude terbaru. Ketiadaan tell lama bukan bukti tulisan manusia. Yang bertahan lewat pergantian prompt dan model adalah pola struktural:
Sebelum nulis apa pun, muat references/vocabulary-banlist.md buat kosakata yang dilarang, dan references/structural-patterns.md buat pola yang harus dihindari.
Orang Indonesia nulis di tiga register yang cukup beda. Sebelum nulis, tentuin tier-nya. Default: semi-formal (kalau user nggak bilang apa-apa).
Untuk makalah akademis, laporan resmi, skripsi/tesis, dokumen kantor, jurnalisme beritanya. Kata ganti: saya, Anda (atau impersonal: peneliti, penulis). Kontraksi: tidak dipakai. Partikel wacana (sih, dong, kan): dilarang. Code-switching ID-EN: dihindari.
Contoh kalimat formal yang natural (bukan AI):
Untuk artikel blog, esai opini, konten LinkedIn, newsletter, feature majalah, Medium ID. Kata ganti: saya/aku, kamu (bukan Anda). Kontraksi: sesekali boleh (nggak, udah). Partikel wacana: boleh sesekali (sih, kan, kok). Code-switching ID-EN: boleh kalau lazim di domain (meeting, deadline, framework).
Contoh kalimat semi-formal natural:
Untuk Twitter/X thread, Instagram caption, WhatsApp Story, blog personal santai, podcast transcript, konten TikTok. Kata ganti: aku, gw/gue, kamu, lo/lu (konsisten dalam satu tulisan, jangan gonta-ganti). Kontraksi: bebas (nggak, udah, gimana, emang, aja). Partikel wacana: wajar dan natural (sih, dong, deh, lho, kan, kok, nih, tuh). Code-switching ID-EN: bebas kalau memang pattern anak muda (literally, which is, somehow).
Contoh kalimat informal natural:
Register yang konsisten sempurna justru sinyal AI. Manusia nulis dengan pergeseran kecil: parentetikal santai masuk ke tulisan formal, istilah teknis kebanting di tulisan santai. Kalau kamu di Tier 1 (formal), sisipin satu atau dua kalimat yang lebih pendek dan blak-blakan. Kalau di Tier 3 (informal), sisipin satu kalimat yang agak rapi. Pergeseran 10 sampai 20 persen dari tier utama bikin tulisan terasa hidup.
Ini aturan paling keras. Dash (em dash — dan en dash –) dilarang sepenuhnya dalam output skill ini. Nggak ada "satu per 500 kata", nggak ada "kalau butuh". Dilarang titik.
Kenapa? Karena em dash udah jadi sinyal AI nomor satu di Indonesia. Pembaca Indonesia jarang banget pakai em dash di tulisan natural. Kehadiran em dash di teks ID = sinyal "ini output AI". En dash juga jarang dikenal mayoritas penulis ID, jadi kehadirannya juga mencurigakan.
Update 2026: sumbernya bergeser. GPT-5.1 ke atas udah men-suppress em dash, jadi teks tanpa dash BUKAN bukti tulisan manusia. Sebaliknya, Claude terbaru (Opus 4.5) jadi pelanggar terparah: 16,9x rate manusia, dipakai di tengah kalimat buat nempelin klausa kualifikasi. Larangannya tetap. Dan yang baru: pantau titik dua. Claude terbaru pakai titik dua 4x rate manusia buat memperkenalkan hampir semua ide lanjutan. Kalau draf punya titik dua tiap beberapa kalimat, ganti mayoritasnya dengan titik. Titik koma juga (3,1x).
Ganti dash dengan:
Contoh konversi:
Khusus untuk rentang angka/tanggal, tulis dengan kata "sampai" atau gunakan format angka biasa: "2020 sampai 2025", "halaman 10-15" (pakai hyphen biasa, bukan en dash).
Di post-generation checklist, hitung jumlah dash (em dan en) di output. Kalau >0, ganti semua. Target: nol dash.
Penggelembung kepentingan: sangat penting, sangat krusial, sangat signifikan, sangat relevan, fundamental (sebagai pujian samar), luar biasa (sebagai pujian generik), mendalam (tanpa detail konkret), berarti / bermakna (sebagai pujian samar)
Kata kerja analitis berlebihan: menyoroti, menggarisbawahi, memfasilitasi, mengoptimalkan, mengedepankan, mewujudkan, merealisasikan, menyelami (padanan "delve", tanda AI paling jelas). Untuk penggantian: memanfaatkan → "menggunakan" hanya ketika artinya "to use"; pertahankan "memanfaatkan" ketika artinya "mengambil manfaat dari" | mengimplementasikan → "menerapkan" | berkontribusi pada → sebutkan tindakan dan hasilnya yang konkret | berperan dalam → sebutkan tindakan spesifik secara langsung
Kata penghubung formal yang harus diganti: selain itu → "juga" | di sisi lain → "namun" atau "tapi" (sesuaikan register) | lebih lanjut → susun ulang atau hilangkan | dengan demikian → "jadi" | oleh karena itu → "jadi" atau "karena itu" | tak kalah penting → nyatakan apa yang ada | menariknya → mulai dengan faktanya | sehubungan dengan hal tersebut → susun ulang | berkaitan dengan hal ini → spesifik tentang apa yang dimaksud | dalam hal ini → jelaskan apa maksud "ini"
Pembuka/penutup klise: "Di era modern ini," | "Dalam konteks [X] yang semakin [Y]," | "Seiring perkembangan zaman," | "Perlu diketahui bahwa" | "Penting untuk diingat" | "Sebagai kesimpulan," | "Dapat disimpulkan bahwa" | "Dengan demikian, dapat disimpulkan" | "Pada akhirnya," | "Perlu kita sadari bersama" | "Tidak dapat dipungkiri"
Penghindaran kopula: merupakan → lebih suka "adalah" atau susun ulang langsung | berperan sebagai → gunakan "adalah" hanya untuk pernyataan identitas, sebaliknya gunakan kata kerja konkret | berfungsi sebagai → gunakan "berfungsi untuk" untuk pernyataan tujuan | memiliki peran penting → nyatakan peran yang tepat | menjadi salah satu... → kuantifikasi secara langsung | "menjadi [X] yang [Y] dalam/bagi [Z]" → nyatakan secara langsung
Atribusi samar: "para ahli menyatakan" → sebutkan namanya | "penelitian menunjukkan" → sebutkan penelitiannya | "banyak kalangan berpendapat" → sebutkan siapa | "menurut beberapa sumber" → sebutkan sumbernya | "studi menunjukkan" → studi mana, kapan, oleh siapa? | "komunitas ilmiah sepakat" → siapa secara spesifik?
Frasa promosi: "memiliki komitmen untuk" | "memberikan dampak positif" | "dalam rangka [tujuan]" | "dalam upaya [X]" | "guna meningkatkan" | "berkontribusi pada kemajuan" | "membangun sinergi" | "memiliki potensi besar" | "menjadi landasan penting" | "menjadi sorotan utama" | "tidak bisa dipandang sebelah mata" | "memberikan kontribusi yang signifikan"
Kata sifat promosi (puffery): komprehensif, holistik, inovatif, dinamis, inklusif, berbagai macam (sebagai pengisi samar), beragam (sebagai pengisi samar), terkini (tanpa tanggal), kolaboratif, berkelanjutan (sebagai buzzword)
Buzzword AI Indonesia (jangan pernah gunakan sebagai jargon samar): transformasi digital, ekosistem (figuratif), paradigma, optimalisasi, sinergi, lanskap (kalke dari "landscape"), kompleksitas (tanpa menjelaskan apa yang rumit), dinamika (tanpa menjelaskan apa yang berubah)
Frasa pengisi AI yang umum (potong atau ganti): "memainkan peran [penting/krusial/kunci]" → nyatakan tindakannya langsung | "dalam hal ini" → spesifik tentang apa | "dalam rangka untuk" → "untuk" | "berbagai macam" → sebutkan apa saja | "tidak perlu dikatakan" → potong | "sudah jelas bahwa" → potong | "lebih sering daripada tidak" → "biasanya" atau beri angka | "dalam beberapa tahun terakhir" → berikan tahun atau rentang waktu yang sebenarnya | "hal ini menunjukkan betapa pentingnya" → nyatakan faktanya | "mari kita telusuri lebih dalam" → langsung bahas | "tantangan dan peluang" → sebutkan masalah atau manfaat spesifik, jangan pasangkan
Pasangan formulaik AI (jangan gunakan bersama): "tantangan dan peluang" | "di satu sisi... di sisi lain..." | "meskipun demikian... namun perlu diingat bahwa" | "kelebihan dan kekurangan"
Hedging berlebihan: "meskipun demikian" → hapus atau ganti dengan "tapi" | "namun perlu diingat bahwa" → potong | "bisa jadi diargumentasikan bahwa" → ambil posisi | "ada baiknya jika" → nyatakan langsung
Artefak chat kolaboratif (jangan pernah gunakan): "Semoga membantu!" | "Tentu saja!" | "Baik, berikut adalah..." | "Apakah ada yang ingin Anda tanyakan?" | "Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya." | "Sebagai AI, saya..."
Tambahan era 2026 (sinyal tertinggi di model terbaru): "memastikan" sebagai padding (padanan "ensuring", kata AI terkuat 2026) → sebutkan tindakan konkretnya atau potong | "berperan [penting/krusial/kunci] dalam membentuk" (trigram AI teratas) → nyatakan apa yang dia lakukan | "mencerminkan / menunjukkan / mendukung" sebagai kata kerja hedging → kata kerja konkret atau hapus | "mampu untuk X" → langsung kata kerjanya | "alih-alih" yang berlebihan (kalke "rather than") → tulis ulang perbandingannya langsung | "sebaliknya" di awal kalimat (kalke "conversely") → "tapi" atau susun ulang | "pada intinya" / "pada dasarnya" / "secara fundamental" → potong | intensifier tanpa angka ("secara signifikan", "secara efektif", "semakin") → dukung dengan data atau hapus | "satu hal yang pasti" / "satu hal yang jelas" | "intinya adalah" sebagai penutup | "ketegangan inheren" | "ini memunculkan pertanyaan penting tentang" | klaster adverbia hedging ("biasanya", "sering kali", "umumnya", "berpotensi", "terkadang" numpuk dalam satu bagian) → komit atau kuantifikasi
Pakai kata pendek yang umum. Jangan cuma cari sinonim. Susun ulang kalimatnya biar ngomong apa yang sebenarnya dimaksud dengan bahasa biasa. AI gagal bukan karena kata yang salah, tapi karena kalimat yang ngisi ruang tanpa nyampein informasi baru.
Di tier semi-formal dan informal, pakai kontraksi percakapan: "nggak" bukan "tidak", "udah" bukan "sudah", "gimana" bukan "bagaimana", "bikin" bukan "membuat", "emang" bukan "memang", "aja" bukan "saja". Di tier formal, pertahankan bentuk lengkap.
Campurkan kalimat sangat pendek (3 sampai 5 kata) dengan yang panjang (25+ kata). Jangan pernah menulis 3 kalimat berturut-turut dengan panjang serupa, dan jangan 3 kalimat berturut-turut di rentang 17 sampai 23 kata. Ini langsung meningkatkan burstiness, metrik yang paling diandalkan detektor.
Jebakan bimodal (baru, 2026): model Claude terbaru (Opus 4.5+) belajar memalsukan burstiness dengan bergantian mekanis antara fragmen pendek dan kalimat sangat panjang. "Pendek. Terus kalimat empat puluh kata yang muter lewat tiga klausa." Diulang terus, pola gantian itu sendiri jadi sidik jari. Data korpus nunjukin AI sekarang justru punya variasi panjang LEBIH tinggi dari manusia, tapi bimodal. Tulisan manusia ngumpul di panjang menengah (50% kalimat manusia itu 11 sampai 25 kata) dengan ayunan sesekali. Jadi: variasikan secara nggak teratur. Menengah, menengah lagi, fragmen, panjang, dua menengah. Bukan metronom, dan bukan jungkat-jungkit juga.
Variasikan pembuka kalimat. Jaga pembuka "Hal ini / Ini / Dalam / Selain itu / Dengan" di bawah setengah dari kalimat mana pun dalam satu paragraf. Mulai kalimat dengan kata kerja, nama, angka, klausa keterangan, atau pertanyaan.
AI secara default mendaftar hal-hal dalam kelompok tepat tiga. Daftarkan dua hal. Atau empat. Atau lima. Jangan default ke tiga item di setiap daftar.
Jangan pernah tulis "Bukan hanya X, tetapi Y" atau "Tidak hanya X, tetapi juga Y". Kontras retoris ini adalah tanda AI. Nyatakan secara langsung apa sesuatu ITU.
Jangan pernah tulis "dari X hingga Y" sebagai spektrum figuratif samar ("dari pertemuan intim hingga gerakan global"). Gunakan "dari X hingga Y" hanya untuk rentang yang benar-benar dapat dikuantifikasi dengan titik tengah yang dapat diidentifikasi.
Jangan pernah akhiri dengan "Tantangan dan Prospek Masa Depan". Jangan pernah tulis "Meski memiliki [kata positif], [subjek] menghadapi tantangan...". Jangan sertakan paragraf "Prospek Masa Depan" yang spekulatif.
Jangan pernah akhiri kalimat dengan ", yang menyoroti pentingnya..." atau ", menggarisbawahi signifikansi..." atau ", melambangkan komitmen daerah terhadap...". Klausa -ing/-kan yang menempel adalah pola AI paling mudah dikenali. Kalau klausa tidak menambah informasi konkret, hapus seluruhnya. Kalau menambah informasi nyata, jadikan kalimat tersendiri.
Jangan pernah mulai paragraf dengan "Secara keseluruhan," "Sebagai kesimpulan," "Singkatnya," "Untuk merangkum." Kalau teks butuh kesimpulan, buat dia ngomong sesuatu yang baru.
Pakai panjang paragraf yang nggak teratur. Paragraf satu kalimat buat penekanan. Paragraf panjang buat argumen yang berkelanjutan. Ritmenya nggak boleh terasa seperti metronom. Model lama nulis paragraf 3 sampai 4 kalimat secara seragam. Model baru (Claude 4.5+, GPT-5) malah over-correct ke arah sebaliknya: memecah teks jadi banyak paragraf mini 1 sampai 2 kalimat plus spam bullet point. Data korpus nunjukin AI rata-rata 18+ paragraf per dokumen, sementara manusia nulis paragraf yang jauh lebih sedikit dan lebih panjang. Gabungin ide-ide yang berkaitan. Penulis asli santai aja ngejalanin paragraf sampai 7 atau 8 kalimat kalau argumennya butuh. Keseragaman pendek sama mesinnya dengan keseragaman panjang.
Lebih baik prosa daripada daftar poin-poin dengan header tebal yang diikuti titik dua. Ketika daftar benar-benar diperlukan, jaga tetap sederhana. Tanpa header tebal, tanpa deskripsi yang dipisah titik dua.
Dilarang total. Nol em dash (—), nol en dash (–). Ganti dengan titik, koma, titik dua, titik koma, atau tanda kurung. Lihat bagian "Kebijakan Tanda Baca" di atas untuk detailnya. Aturan ini menggantikan praktik lama "satu per 500 kata". Sekarang: nol.
Campurkan kalimat deklaratif dengan pertanyaan, kalimat perintah, dan fragmen yang disengaja. Pertanyaan tulus di tengah paragraf ("Kenapa ini penting?") menandakan pikiran yang lagi mikir. Kalimat perintah ("Pikirkanlah.") ganti register. Fragmen buat penekanan. AI nulis hampir eksklusif dalam deklaratif karena dia ngejawab. Manusia juga bertanya-tanya, ngasih perintah, dan motong pikiran di tengah jalan.
Jangan buka setiap paragraf dengan kalimat tesisnya. Mulai beberapa paragraf di tengah pemikiran, dengan detail spesifik, adegan, atau contoh yang dapet konteksnya. Akhiri beberapa paragraf sebelum nyelesain "so what" yang diharapkan. AI nulis busur yang rapi: klaim, bukti, implikasi. Pecah busur itu minimal dua kali per tulisan.
Campurkan struktur kalimat dangkal dan dalam. Kalimat dangkal: subjek, kata kerja, objek, satu klausa. Kalimat dalam: beberapa embedding, klausa subordinat, bagian parentetikal. AI menghasilkan kalimat kedalaman menengah dengan konsistensi yang membosankan. Manusia berayun antara ekstrem. Pernyataan blak-blakan diikuti eksplorasi berliku yang padat klausa.
Detektor AI (terutama Turnitin 2025+) menganalisis distribusi kata fungsi, yaitu kata penghubung, preposisi, partikel. AI pakai set kata fungsi yang lebih sempit. Variasikan kata penghubung: jangan selalu "dan", pakai juga "serta", "sama", "plus" (informal). Jangan selalu "tetapi", pakai "tapi", "cuma", "namun" sesuai register. Variasikan preposisi: jangan cuma "untuk", pakai "buat" (informal), "demi", "guna" (formal). Kekayaan kata fungsi adalah sinyal manusia yang kuat.
AI ngasilin teks dengan rasio tipe-token (type-token ratio) yang rendah, artinya lebih sedikit kata unik. Manusia pakai lebih banyak hapax legomena (kata yang cuma muncul sekali). Untuk ningkatin: pakai istilah domain-spesifik, campur register (formal + informal), masukin kata dari bahasa daerah, pakai bahasa figuratif yang spesifik, dan jangan hindarin pengulangan kata yang sama demi siklus sinonim.
Pakai bagian "Kesimpulan" cuma kalau genre-nya memang ngharusin (contoh: makalah akademis, laporan formal, dokumen kepatuhan). Buat esai, artikel, dan tulisan santai, tutup dalam prosa aja.
Jangan pernah mulai dengan "Di era modern ini," "Seiring perkembangan zaman," atau "Dalam konteks X yang semakin Y." Mulai dengan fakta spesifik, angka, atau adegan.
Pertahankan cuma ketika kontras benar-benar diperlukan dan menambah makna baru. Kalau nggak, nyatakan apa sesuatu itu secara langsung.
Pernyataan kepentingan tanpa bukti. Kuantifikasi atau bandingkan secara spesifik sebagai gantinya.
Sebutkan masalah konkret, dan kalau memungkinkan, sertakan angka.
Hapus "dapat dilihat bahwa," "dapat dipahami bahwa," "perlu dipahami bahwa." Nyatakan temuannya.
Tulis ulang "program di mana peserta akan..." jadi "program yang..." atau kalimat langsung. "Di mana" sebagai kata ganti relatif adalah kalke dari bahasa Inggris "where". Ini tanda langsung tulisan AI.
"Melatih" bukan "pelaksanaan pelatihan." "Mengembangkan" bukan "pengembangan kapasitas." "Membangun" bukan "pembangunan." AI belajar gaya birokrasi akademis Indonesia secara berlebihan. Frasa kata benda berat yang gantiin kata kerja sederhana.
AI suka masangin "tantangan dan peluang," "kelebihan dan kekurangan," "di satu sisi... di sisi lain..." Sebutkan masalah spesifik ATAU manfaat spesifik. Jangan pasangkan secara refleks.
AI gaya lama nulis terlalu banyak kalimat pasif berturut-turut: "Hal ini dilakukan..." "Perlu ditekankan..." "Dapat dilihat bahwa..." Campurkan kalimat aktif dan pasif.
Tapi jangan over-correct. Data korpus 2026 nunjukin model terbaru justru pakai pasif LEBIH SEDIKIT dari manusia (AI 4,7% vs manusia 14,9% di korpus Inggris; di Bahasa Indonesia, pasif malah lebih natural lagi karena struktur bahasanya). Draf yang 100% aktif, deklaratif, dan punchy terus-terusan itu register "Motivator" GPT-5, bukan manusia. Manusia Indonesia natural pakai pasif ketika objeknya lebih penting dari pelaku ("filenya kehapus", "venue-nya udah dibooking dari jauh hari"). Yang jadi tell itu keseragaman, ke arah mana pun.
Pola pembuka GPT-5.x yang sekarang masuk ke output Bahasa Indonesia lewat terjemahan pola: "Banyak orang mengira X. Kenyataannya Y." / "Lupakan X. Fokus ke Y." / "Ini bukan soal X. Ini soal Y." Sekali dipakai, oke. Jadi sidik jari kalau muncul di mayoritas pembuka tulisan atau tiga kali dalam satu post. Ganti dengan fakta spesifik, angka, adegan, atau nama.
Ciri khas hasil copy-paste mentah: istilah kunci dari instruksi diulang terus dalam draf secara nggak natural, kayak artikel SEO tahun 2015. Kalau topiknya "strategi pemasaran digital UMKM", frasa itu nggak boleh muncul utuh lebih dari sekali dua kali. Variasikan: "cara jualan online buat usaha kecil", "pemasaran buat warung", atau langsung ke contoh konkretnya.
Tiap LLM punya "aidiolect" sendiri. Pola di bawah dari era GPT-5.x dan Claude 4.5 sampai 5, dan pola Inggris-nya bocor ke output Bahasa Indonesia lewat kalke. Hindari semuanya:
ChatGPT (GPT-5 / 5.1 / 5.2), dialek "Motivator":
Claude (Sonnet 4.5/4.6, Opus 4.5, Claude 5), dialek "Philosopher":
Gemini: prosa ungu, kata sifat berlebihan, moralisasi, pernyataan tema eksplisit, nada buku pelajaran "Educator".
Riset korpus 2026 nemuin 82% teks AI ngikutin irama argumen yang sama apa pun model dan topiknya: Pembukaan (konteks/klaim) → Ekspansi (detail pendukung) → Kontras (akui komplikasi) → Resolusi (simpulkan atau transisi). Terdeteksi dalam 3 sampai 4 kalimat, dan ini alasan teks AI terasa "aneh" walau tiap katanya udah bener. Instruksi prompt nggak bisa ngehapus ini; modelnya bakal ngebangun ulang pola itu dengan kosakata apa pun.
Pecah dengan sengaja, minimal beberapa kali per tulisan:
Manusia ninggalin argumen yang berat sebelah. Penutup resolusi ("Pada akhirnya...", "Intinya adalah...") itu artefak training; ending asli ambil posisi terus berhenti.
Ganti setiap klaim generik dengan yang spesifik. "Banyak perusahaan" jadi "tiga startup di Jakarta Selatan". "Berbagai faktor" jadi faktor-faktor yang sebenarnya, disebutkan namanya. "Para ahli setuju" jadi orang spesifik yang ngomong itu, dengan namanya.
Jangan pernah tulis "Para ahli berpendapat," "Pengamat mencatat," "Laporan industri menyarankan," "Menurut beberapa pihak," "Banyak yang percaya." Sebutkan sumber spesifik, atau hapus atribusi sepenuhnya.
Jangan pernah tempelin komentar analitis ke fakta yang nggak butuh. Data populasi nggak butuh "menciptakan komunitas yang hidup". Tanggal pendirian nggak butuh "menandai momen penting dalam sejarah". Nyatakan fakta. Biarin dia berdiri sendiri. Kalau pernyataan analitis bisa berlaku buat subjek apa pun, nggak ada gunanya. Hapus.
Jangan pernah tulis tentang gimana sesuatu "berkontribusi pada" apa pun secara luas. Jangan pernah nyatain bahwa sesuatu "mencerminkan tren yang lebih luas". Jangan pernah tegasin bahwa fakta biasa punya "warisan abadi". Kalau kepentingan ada, tunjukin lewat bukti spesifik, bukan lewat pernyataan.
Ambil posisi. "Pendekatan ini salah karena..." bukan "Beberapa berpendapat X, sementara yang lain berpendapat Y." AI menghindar secara refleks. Manusia berkomitmen. Keseimbangan palsu adalah tanda AI. Dunia nyata jarang seimbang sempurna.
Ketika kamu nggak tahu sesuatu, bilang aja langsung. "Saya nggak yakin" atau "Saya nggak punya info cukup" nandain pemikiran yang jujur. Pakai penanda ketidakpastian dengan hemat tapi tulus, bukan sebagai penghindaran ("bisa jadi diargumentasikan bahwa") tapi sebagai kejujuran epistemik yang sebenarnya.
Sertakan tekstur yang disengaja: redundansi yang dipertahanin buat ritme, fragmen yang dipakai buat penekanan, bagian santai dalam prosa formal, koreksi diri sesekali di tengah pemikiran ("sebenarnya, kalau dipikir lagi..."). Ketidaksempurnaan ini nandain pikiran nyata yang lagi bekerja. Tata bahasa yang terlalu sempurna justru sinyal AI.
Parentetikal santai mendadak dalam argumen formal. Istilah teknis yang jatoh ke prosa percakapan. Humor yang nghantam dari samping. Pergeseran ini terbaca sebagai autentik karena AI nggak pernah produksi itu secara spontan. Studi stilometri nunjukin register yang seragam adalah tanda AI paling konsisten.
Sebutkan peristiwa nyata terkini, momen budaya pop yang spesifik, orang dan karya yang sebenernya. Bukan "perkembangan terkini di bidang ini". Pakai referensi budaya Indonesia: wayang, kuliner lokal, tradisi daerah, momen internet Indonesia yang viral.
Pakai "saya" atau "aku" (atau "gw" di tier informal) ketika konteks memungkinkan. Bagikan pengalaman, pendapat, atau pengamatan spesifik. AI default ke generalisasi orang ketiga yang diabstraksikan karena dia nggak punya pengalaman hidup.
Bahasa Indonesia natural pakai partikel wacana yang nandain suara manusia nyata. Ketiadaan total partikel adalah tanda AI nomor satu (setelah dash). Panduan penggunaan:
Panduan per tier:
AI kekunci pada "Anda" tanpa mikirin konteks. Ini tanda langsung.
Cocokkan register yang sebenarnya. Jangan pernah pakai "Anda" dalam konteks yang jelas santai. Pilih satu set kata ganti dan pertahankan dalam satu tulisan. Gonta-ganti "aku" dan "gw" dalam paragraf yang sama adalah pola AI.
AI selalu nulis Indonesian formal. Ini bikin tulisan terasa kayak dokumen pemerintah. Ketika konteksnya informal, pakai bentuk alami:
| Formal (AI) | Santai (manusia) |
|---|---|
| tidak | nggak, gak, ga |
| sudah | udah |
| bagaimana | gimana |
| membuat | bikin |
| memang | emang |
| saja | aja |
| sangat | banget |
| dengan | sama (konteks tertentu) |
| ingin | pengen |
| ini | nih |
| itu | tuh |
| belum | belom |
| mengerti | ngerti |
| mencari | nyari |
| menonton | nonton |
Bahasa Indonesia informal memendekkan prefiks meN- jadi bentuk nasal. Aturan asimilasi nasal meN-:
| Prefiks | Huruf awal | Nasal | Contoh formal → informal |
|---|---|---|---|
| meng- | vokal, g, h, k | ng- | mengambil → ngambil, mengerti → ngerti |
| men- | t, d, c, j | n-/ny- | menonton → nonton, mencari → nyari |
| mem- | b, p, f | m-/mb- | membantu → mbantu, membuat → mbuat |
| meny- | s | ny- | menyapu → nyapu, menyukai → nyukain |
Contoh lengkap:
AI hampir nggak pernah ngelakuin ini. Penggunaan prefiks formal yang konsisten dalam konteks santai adalah tanda AI yang sangat jelas. Manusia Indonesia nyaris nggak pernah pakai prefiks lengkap dalam percakapan.
Manusia Indonesia pakai interjeksi yang AI jarang pakai:
Pakai idiom Indonesia yang relevan buat nambah tekstur. Bukan semua, tapi sesekali:
AI hampir nggak pernah pakai ungkapan ini secara natural.
Orang Indonesia secara natural nyampurin bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, terutama dalam konteks bisnis, teknologi, dan percakapan anak muda:
Di tier informal, code-switching juga bisa dalam bentuk "connector" kayak "literally", "which is", "somehow", "basically". AI jarang natural di pola ini. Tapi jangan paksain. Pakai cuma ketika konteks memungkinkan dan emang natural buat audiens sasaran.
AI nulis Bahasa Indonesia yang kedengeran kayak terjemahan dari bahasa Inggris. Ini namanya "translationese", secara gramatikal bener tapi nggak natural. Aturan-aturan berikut ngatasin pola-pola translationese paling umum.
Bahasa Indonesia punya dua jenis pasif:
AI hampir selalu pakai pasif di- dengan "oleh", kayak terjemahan langsung dari "by" dalam bahasa Inggris. Manusia Indonesia jauh lebih sering pakai pasif prokletik atau kalimat aktif.
Pola AI: "Keputusan itu dibuat oleh tim manajemen."
Natural: "Tim manajemen yang bikin keputusan itu." atau "Keputusan itu tim manajemen yang buat."
Aturan: Kurangi "oleh" secara drastis. Pakai pasif prokletik (pronomina + verba dasar) buat register santai. Pakai kalimat aktif kalau memungkinkan.
Bahasa Indonesia adalah bahasa topic-prominent, bukan subject-prominent kayak Inggris. Kalimat natural Indonesia sering naro topik di depan, bukan subjek gramatikal.
Pola AI (subject-prominent, kalke Inggris): "Program ini telah memberikan manfaat kepada masyarakat."
Natural (topic-prominent): "Kalau programnya, masyarakat udah mulai ngerasain manfaatnya."
Contoh lain:
Aturan: Sesekali pakai struktur topik-komentar. Mulai kalimat dengan topik yang dibahas, bukan selalu dengan subjek gramatikal.
Bahasa Indonesia membolehkan penghilangan subjek ketika konteksnya udah jelas. AI selalu nyatain subjek secara eksplisit, kayak bahasa Inggris yang memang ngharusin itu.
Pola AI: "Dia pergi ke pasar. Dia membeli sayuran. Dia kembali sore hari."
Natural: "Pergi ke pasar. Beli sayuran. Sore baru balik."
Pola AI: "Kami mengadakan rapat. Kami membahas anggaran. Kami menyetujui proposal."
Natural: "Ngadain rapat, bahas anggaran, terus setujuin proposalnya."
Aturan: Ketika subjek udah jelas dari konteks, hilangin. Pengulangan subjek yang nggak perlu adalah tanda translationese.
AI pakai "yang" secara berlebihan, ngalke relative clause bahasa Inggris. Bahasa Indonesia natural lebih sering ngilangin "yang" atau nyusun ulang kalimat.
Pola AI: "Orang yang tinggal di desa yang terletak di kaki gunung yang bernama Merapi."
Natural: "Orang desa di kaki Merapi."
Pola AI: "Strategi yang digunakan oleh perusahaan yang bergerak di bidang teknologi."
Natural: "Strategi perusahaan teknologi."
Aturan: Kurangi rantai "yang". Kalau ada lebih dari dua "yang" dalam satu kalimat, susun ulang.
AI pakai "adalah" terlalu sering, ngalke kopula bahasa Inggris "is/are". Bahasa Indonesia sering nggak butuh kopula sama sekali.
Pola AI: "Indonesia adalah negara kepulauan. Jakarta adalah ibukotanya. Bahasa Indonesia adalah bahasa resminya."
Natural: "Indonesia negara kepulauan. Ibukotanya Jakarta. Bahasa resminya Bahasa Indonesia."
Aturan: Bahasa Indonesia sering nggak butuh "adalah". Hilangkan ketika konteks udah jelas. Pakai "adalah" cuma buat penekanan identitas atau definisi formal.
AI kadang bikin inkonsistensi ejaan yang manusia Indonesia juga sering bikin, tapi pola inkonsistensinya beda. AI cenderung pakai bentuk yang lebih "populer" secara tidak konsisten:
Aturan: Pakai ejaan KBBI yang bener secara konsisten. Tapi di konteks informal, pilih satu bentuk dan pertahanin. Inkonsistensi acak justru tanda AI, bukan manusia.
Tulisan Indonesia punya konvensi retorika yang beda dari Inggris:
CATATAN PENTING: Per April 2026, Turnitin TIDAK mendukung deteksi AI untuk Bahasa Indonesia. Turnitin cuma mendukung bahasa Inggris (dan beberapa bahasa Eropa secara terbatas). Tapi, aturan-aturan di bawah ini tetap relevan karena: (1) dosen/editor mungkin pakai detektor lain yang support multi-bahasa (GPTZero, Originality.ai, Copyleaks), (2) prinsip stilometri berlaku universal lintas bahasa, (3) dukungan Turnitin buat bahasa lain terus nambah.
Berdasarkan riset tentang cara kerja detektor AI (Turnitin buat Inggris, dan detektor multi-bahasa lainnya):
Turnitin nggak cuma ngeliat kalimat individual. Dia menganalisis "ritme, alur, dan prediktabilitas seluruh paragraf". Pastikan setiap paragraf punya pola yang beda dari paragraf sebelumnya.
Tata bahasa yang sempurna tanpa variasi adalah sinyal AI. Sertakan variasi natural: kalimat fragmen, kalimat berlari (run-on) yang disengaja, penggunaan tanda baca yang nggak sempurna.
Tulisan yang mempertahanin register yang persis sama dari awal sampai akhir terdeteksi sebagai AI. Sertakan minimal 2 sampai 3 pergeseran register per tulisan.
Turnitin (update Agustus 2025) secara khusus deteksi teks yang dimodifikasi oleh alat humanizer AI. Menandai dengan warna ungu (lebih buruk dari cyan). Jangan pakai alat parafrase AI. Tulis dengan benar sejak awal.
Jangan pakai transisi formulaik yang sama berulang. Pakai: transisi implisit (tanpa kata penghubung), pertanyaan sebagai transisi, fragmen kalimat, ganti topik mendadak yang dapet konteks di kalimat berikutnya.
Setelah nyusun draf, jalanin daftar periksa ini:
Tier dan Tone:
Tanda Baca:
— dan en –). Target: NOL. Ganti semua dengan titik, koma, titik dua, titik koma, atau tanda kurung.Kosakata:
Struktur:
10. Periksa pembuka. Kalau mulai dengan "Di era modern ini..." atau "Seiring perkembangan zaman..." tulis ulang dengan fakta spesifik.
11. Periksa kalimat terakhir setiap paragraf. AI hampir selalu nambahin pernyataan ulang yang berlebihan; hapus itu.
12. Periksa frasa partisipatif yang nempel di akhir kalimat, tulis ulang sebagai kalimat tersendiri atau hapus.
13. Periksa variasi tipe kalimat. Kalau cuma kalimat deklaratif, tambah minimal satu pertanyaan atau kalimat perintah.
14. Verifikasi pembuka paragraf. Kalau setiap paragraf mulai dengan kalimat tesisnya, tulis ulang minimal dua buat mulai di tengah pemikiran.
Suara:
15. Periksa register vs tier yang dipilih. Apakah konsisten? Terlalu formal buat blog? Terlalu santai buat laporan?
16. Baca seluruh tulisan dengan keras. Ritme AI yang canggung kedengeran dengan cara yang nggak keliatan di layar.
17. Hitung pergeseran register. Kalau nol, tambah minimal dua (parentetikal santai, humor, koreksi diri).
Tambahan Khusus Indonesia:
18. Temuin semua "merupakan", ganti sebagian besar dengan "adalah" atau susun ulang secara langsung.
19. Hapus header bagian "Kesimpulan" otomatis kecuali format ngharusin.
20. Temuin setiap "tidak hanya...tetapi juga", pertahanin cuma ketika kontras diperlukan.
21. Periksa pembuka. Kalau mulai dengan "Di era" / "Seiring" / "Dalam konteks", tulis ulang.
22. Temuin semua rantai nominalisasi (pe-/ke-an/-an), lebih suka bentuk kata kerja kalau kejelasan nambah.
23. Temuin semua "dapat dilihat bahwa" / "dapat dipahami bahwa", hapus dan nyatain faktanya.
24. Periksa register kata ganti. Apakah "Anda" cocok dengan nada yang dimaksud, atau harusnya "kamu"? Atau tier informal dan harusnya "lo/gw"?
25. Temuin semua klausa relatif "di mana", tulis ulang sebagai kalimat langsung.
26. Periksa keberadaan partikel wacana. Kalau konteks santai (tier 2/3) dan nol partikel (sih, dong, deh, kan, dll.), tambahin secukupnya. Kalau tier formal, pastikan nggak ada yang kelepasan.
27. Periksa penggunaan prefiks formal. Kalau konteks informal (tier 3) tapi semua kata pakai prefiks lengkap (mengerti, mencari, menonton), perbaiki.
28. Cari pasangan formulaik "tantangan dan peluang" / "di satu sisi... di sisi lain...", pisahkan atau hapus.
Anti-Translationese:
29. Hitung "oleh". Kalau lebih dari dua per halaman, ganti sebagian dengan pasif prokletik atau kalimat aktif.
30. Cari rantai "yang". Kalau ada lebih dari dua "yang" dalam satu kalimat, susun ulang.
31. Periksa subjek berulang. Kalau subjek yang sama disebut 3+ kali berturut-turut, hilangkan yang nggak perlu (pro-drop).
32. Cari "adalah" berlebihan, hilangkan kalau konteks udah jelas tanpa kopula.
33. Periksa apakah ada struktur topik-komentar. Kalau semua kalimat subject-prominent, ubah beberapa jadi topic-prominent.
34. Periksa linearitas. Kalau tulisan jalan A → B → C → D tanpa pernah balik, pertimbangin pengembangan sirkuler.
35. Periksa ulang akurasi semantik. Pastikan setiap penggantian mempertahanin makna asli.
Cek Sidik Jari Model 2026:
36. Tes pembuka kalimat: dalam tiap paragraf, kalau lebih dari setengah kalimat mulai dengan "Hal ini / Ini / Dalam / Selain itu / Dengan", tulis ulang pembukanya.
37. Tes cadence: cari deretan 3+ kalimat di rentang 17 sampai 23 kata, pecah.
38. Cek jungkat-jungkit bimodal: kalau teks gantian mekanis antara fragmen dan kalimat panjang, sisipin kalimat panjang menengah.
39. Hitung titik dua. Kalau lebih dari kira-kira satu per 300 kata di luar daftar, ganti mayoritas dengan titik.
40. Cari "memastikan", "mencerminkan", "menunjukkan", "mendukung" yang dipakai sebagai padding; ganti dengan kata kerja konkret.
41. Cari "berperan * dalam membentuk" dan konstruksi "berperan dalam" apa pun; nyatakan tindakannya langsung.
42. Hitung konstruksi "bukan sekadar X, tapi Y" / "bukan soal X, ini soal Y". Lebih dari satu per tulisan, tulis ulang.
43. Cek pembuka hook dua klausa simetris ("Banyak orang mengira X. Kenyataannya Y."); kalau ada, tulis ulang pembukanya.
44. Cek jumlah vs panjang paragraf: kalau tulisan terpecah jadi banyak paragraf 1 sampai 2 kalimat, gabungin yang berkaitan.
45. Cek ending: kalau selesai rapi ("satu hal yang pasti", "intinya adalah", rekap yang ngulang), potong dan akhiri di posisi atau fakta konkret.
46. Cek busur argumen: kalau tiap bagian jalan Pembukaan → Ekspansi → Kontras → Resolusi, pecah iramanya di minimal dua bagian.
47. Cek penumpukan hedge-and-reassure ("Meskipun X, secara umum, dalam banyak kasus..."); maksimal satu hedge per klaim, atau nol.
48. Cek repetisi kata kunci prompt: istilah topik utuh nggak boleh muncul lebih dari dua kali; variasikan penyebutannya.
Terakhir Diperbarui: 6 Juli 2026 (v3.0)
Changelog v3.0: Version bump dari v2.0. Semua konten diperbarui ke aturan terbaru.
Take adenaufal/anti-slop-writing-id from the repository into ~/.claude/skills for personal
use, or into .claude/skills inside a project.
The agent identifies a skill by the name field in its header. Two skills with the
same name cannot sit side by side — one of them will be ignored.